Login Form
Content View Hits : 9482
StatCounter

View My Stats
Home

PostHeaderIcon Program Keren Untuk Tingkat Akhir



Wanita adalah makhluk ciptaan Allah yang sarat dengan sifat-sifat mulia seperti kelembutan, kesantunan, kesetiaan, keanggunan, dan kasih sayang. Peradaban manusia akan hidup dan semarak dengan nilai-nilai kesempurnaan perempuan, yang sejatinya dititipkan sifat Rahman dan Rahim oleh Allah SWT. Oleh karena itu, wanita seyogyanya dapat menyadari dan mensyukuri kekuatan dan potensi dasarnya.

Wanita adalah partner sejati bagi kaum pria, di mana hak dan kewajiban sebagai hamba Allah adalah sejajar. Hal ini sinergis menuju kehidupan yang harmonis.

Berdasarkan hal di atas, maka perlu dibangun kekuatan wanita sesuai fitrahnya agar wanita dapat menjadi bagian dari kebangkitan umat dan pewarna kebaikan dalam peradaban islam.

Kita coba belajar pada Ibu kita Kartini. Wanita fenomenal pada masanya. Dia adalah wanita cerdas dan visioner. Dia memiliki ‘self awarness’ yang memacunya untuk terus berpikir dan belajar. Dengan itu, dia semakin mengenal Rabbnya, agamanya, kaumnya, dan sosial politik. Kunci dari Ibu kita Kartini adalah intelektualitas, keberaniaan, keyakinan, kemandirian, dan masih banyak lagi nilai kepahlawanan yang dapat kita temukan dari Ibu kita Kartini.

Nilai-nilai kebaikan yang mutlak ada dalam diri wanita perlu diasah dan dikembangkan sesuai kondisi zaman masa kini dan masa yang akan datang. Hal ini menjadi acuan dan bekal bagi wanita dalam aplikasi diri dalam berkeluarga, bermasyarakat, berpolitik dan bernegara.

Beranjak dari dasar pemikiran di atas, LSM Lingkar Perempuan menyelenggarakan kelas motivasi dan oft skill untuk mahasiswi tingkat akhir (sarjana/ D3) berjudul THE POWER of WOMEN. Berhubung peminat yang cukup banyak sementara kapasitas ruang yang masih terbatas, gelombang pertama akan diselenggarakan mulai 5 Agustus - 5 September 2009 untuk mahasiswi muslimah ITB, UNIKOM, dan UNPAD.

Materi pelatihan meliputi :

1. Pesona Muslimah
2. Konsep Diri
3. Manajemen waktu
4. Public speaking
5. Dream building
Bersama pemateri dan trainer yang kompeten di bidangnya.

Pendaftaran Gelombang II dapat dilakukan dengan menghubungi :

Esa (08562038844)
Tri (08122451424)

atau datang langsung ke sekretariat CeWe :

Jl. Rereng Barong no. 53 Bandung

Last Updated ( Thursday, 24 September 2009 00:04 )

 

PostHeaderIcon Makan ikan, why not?

Pufh...alhamdulillah..akhirnya selesai sudah eksperimen masak hari ini. Gulai ikan patin...Lembut, spicy, dan tentunya uenak dong!

Jujur baru kali ini masak ikan patin sukses. sacara pengalaman memang sudah berkali-kali itu ikan bau amis lah atau hancur tak berbentuk.

Jadi teringat...rasanya jarang banget keluarga saya masak ikan. Dalam seminggu paling cuma 2-3 hari menunya ikan. Lainnya kalau ga ayam, nugget, sosis, daging sapi, dan produk olahan lainnya..

Olala padahal dalam ikan ada zat yang namanya omega3 yang bagus banget untuk kecerdasan anak. Jadi berfikir-fikir gimana dengan keluarga2 Indonesia lainnya ya? Ternyata konsumsi ikan orang indonesia hanya 26kg/kapita/tahun

 

(to be continued)

Last Updated ( Wednesday, 29 April 2009 01:38 )

 

PostHeaderIcon Meraih Penghasilan dari Rumah

Diambil dari http://www.ummigroup.co.id/cetak.php?id=38

Ide menjalankan bisnis rumahan, sungguh ide yang menarik. Waktunya fleksibel, bebas stress lantaran kemacetan lalu lintas, tak terlalu banyak aturan dari perusahaan, dan berbagai kelebihan lainnya. Bagaimana memulainya?

Bisnis atau usaha rumahan adalah bisnis yang dijalankan dari rumah. Bisa jadi sebagian atau seluruh kegiatannya dilakukan di luar rumah, namun pusat dari kegiatan itu tetap dijalankan dari rumah.

Sebagai sebuah sambilan, bisnis semacam ini dapat menambah pemasukan. Namun tak jarang pula bisnis ini menjadi sebuah pekerjaan utama bagi sebagian orang. Sebagai sebuah pekerjaan utama dan dikelola secara serius, bisnis rumahanpun bisa berkembang jadi sebuah indutri yang tidak hanya menambah pemasukan keluarga, bahkan bisa menghidupi banyak orang. Banyak kisah sukses perusahaan besar bermula dari sebuah bisnis rumahan.

Sebagai langkah awal, bisnis yang dijalankan dari rumah ini tampaknya cocok dengan kehidupan ibu rumah tangga. Dengan waktu yang fleksibel, seorang ibu dapat membagi waktu antara bisnis dan urusan keluarga, semisal mengurus anak-anak, dengan sangat leluasa. Maka penghasilan tambahan didapat, keluargapun terawat.

Penghasilan dari rumah
Menurut Ustadz Iskan Qolba Lubis MA., Islam tak melarang suami istri punya penghasilan masing-masing. Tapi yang wajib membiayai keluarga tetap suami. Namun bagi seorang istri, memiliki penghasilan sendiri tentu membuatnya lebih “bebas”. “Dalam arti kalau uangnya banyak, dia bisa membantu orangtuanya. Mungkin dia tak enak bila membebankan itu pada suaminya terus. Kemudian dia juga ingin lebih banyak berinfaq. Saya rasa laki-laki dan perempuan sama, ingin bersedekah, ingin banyak membantu,” urai lulusan program master untuk Islamic Studies dari Punjab University, Pakistan ini.

Dalam memperoleh penghasilan, menurut Iskan ada 3 cara yang bisa ditempuh perempuan, yaitu bekerja pada orang lain, menjadi enterpreuner (wirausahawan) dan menjadi investor. Melihat fungsi dan peran seorang ibu, ayah 3 orang putra ini melanjutkan bahwa yang menurutnya ideal dan cukup realistis, tentu tanpa mengecilkan arti pekerjaan lainnya, adalah menjadi seorang enterpreuner. “Karena dengan enterpreunership ini, dia berarti usaha sendiri dan berarti pula ia bebas mengelolanya. Diapun dapat menentukan kapan ia mau keluar, mungkin ia bisa mengantar anaknya dulu,” jelas dosen pada Sekolah Tinggi Tafsir Hadits, Bekasi ini.

Sejalan dengan pendapat itu, Safir Senduk, konsultan keuangan keluarga yang mengisi rubrik konsultasi keuangan di berbagai media massa, pekerjaan di rumah semacam ini akan memberi kesempatan bagi sebagian orang untuk tetap bisa melakukan tugas-tugas lainnya yang memang perlu dilakukan dari rumah. “Kalau misalnya ada hal-hal yang harus diawasi dari dalam rumah, tak usah dia tinggalkan. Dia tetap bisa berfungsi seperti biasa, misalnya fungsinya sebagai seorang ibu,” kata pendiri Biro Perencana Keuangan Safir Senduk dan Rekan ini.

Di luar soal sisi ideal bisnis rumahan bagi perempuan, Tyas U. Soekarsono Ph.D, dosen pada FEUI, berpendapat bisnis semacam ini selain memecahkan masalah ekonomi rumah tangga juga punya peran yang lebih besar. Bisnis-bisnis rumahan yang telah berkembang ternyata telah menjadi katup pengaman perekonomian Indonesia. Bagaimana tidak, disinyalir ada hampir 40 juta pengusaha kecil dan menengah di seluruh Indonesia. Sementara jumlah pengusaha di seluruh Indonesia ada 40 juta. Berarti 99 persen pengusaha di Indonesia adalah pengusaha kecil dan menengah. Siapa mereka? Ternyata mereka adalah pelaku bisnis rumahan.

Dengan perbandingan seperti itu, otomatis bisnis rumahan menyerap tenaga kerja paling banyak. “Pengusaha besar itu hanya mengambil 0,1 persen dari seluruh tenaga kerja yang ada di Indonesia. Berarti 99 persen tenaga kerja diserap oleh UKM (Usaha Kecil dan Menengah-red),” jelas Tyas. Ini membuktikan bahwa keberadaan bisnis rumahan tak bisa dipandang sebelah mata. Dan terjunnya seseorang ke usaha semacam ini sudah selayaknya mendapat dukungan.

Memulai usaha
Menurut Tyas ada 2 hal utama yang akhirnya mendorong orang untuk membuka usaha. “Pertama, seseorang melakukan sesuatu karena memang keinginan jiwanya, dia mau jadi enterpreuner. Atau karena kepepet,” kata doktor lulusan University of Illinois, Amerika Serikat, ini.

Dia mencontohkan keberadaan para pedagang “Sogo Jongkok” di Pasar Tanah Abang, Jakarta, adalah akibat krismon yang menimbulkan gelombang PHK besar-besaran. Karena kepepet, para mantan karyawan itu membuka usaha kecil-kecilan semacam itu. Dengan keadaan kepepet seperti ini biasanya orang jadi kreatif dan mampu melakukan banyak hal untuk tetap bertahan hidup, termasuk merintis usaha rumahan ini.

Iskan menambahkan pula, bahwa ketika manusia memiliki suatu keinginan dan kemudian memikirkan bagaimana mendapatkannya, maka otak akan bekerja lebih cepat. “Nanti akan timbul alternatif-alternatif,” ujarnya. Berbagai pilihan kemudian muncul dan kita bisa memilih cara agar dapat tercapai keinginan kita. Agar keluarga bisa hidup lebih sejahtera, maka perlu dipikirkan cara untuk menambah pemasukan keluarga. Potensi diri bisa terus digali.

Sesungguhnya banyak potensi perempuan yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan keluarga. Iskan mencontohkan sebenarnya banyak ibu rumah tangga yang memiliki keahlian, seperti di bidang akuntansi dan hukum. Dengan keahlian semacam itu, ia bisa saja membuka jasa konsultan dimana seluruh waktu bisa diatur sendiri olehnya. Pun bisa dilakukan tanpa terlalu sering meninggalkan rumah.

Awalnya mungkin terasa amat sulit, terutama bagi ibu rumah tangga yang sudah terbiasa “menganggur” di rumah. “Sekarang coba ia bermunajat. Di tengah malam ia bangun dan berdoa,” anjur Iskan lagi. Dengan pertolongan dari Allah, tentu seluruh gerak yang kita lakukan akan terasa jauh lebih mudah.

Sebelum memulai usaha tentu ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Namun yang terpenting menurut Safir Senduk adalah mental untuk tak terlalu cepat mengharap untung. “Yang paling penting adalah orang itu harus bersedia tidak menikmati hasilnya selama beberapa bulan ke depan,” kata lulusan STIE IBMI, Jakarta, ini. Jadi, kesabaran sangat diperlukan.

Sedang menurut Ustadz Iskan yang pertama perlu dipersiapkan adalah mental untuk berjuang. “Jangan dulu berpikir segala-galanya itu sulit. Peluang itu puluhan ribu,” imbuhnya. Kemudian yang perlu dilakukan adalah membuka mata untuk memperluas wawasan pada kegiatan usaha yang ingin dikembangkan. Setelah mengetahui secara pasti medan yang akan kita jalani, barulah kita terjun ke sana.

Sementara Tyas, yang juga menjabat sebagai Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI), memaparkan hal-hal yang lebih teknis. Menurutnya yang harus dipertimbangkan saat memulai usaha adalah pertama, produk itu sendiri. Seseorang yang ingin memproduksi atau menjual suatu produk, harus tahu betul spesifikasi dagangannya. Dia harus memastikan produknya bisa laku di pasaran. Marketing jadi hal mutlak yang harus diperhatikan, dari pengemasan sampai siapa target pasar mereka. “Misalnya bisnis rumahan, kalau lokasinya di daerah orang-orang menengah ke atas, mungkin kurang cocok kalau misalnya berdagang peci. Akan lebih cocok kalau dagang aksesoris mobil,” gambar ayah 5 anak ini.

Kerja keras dan ketekunan
Keseriusan dan ketekunan adalah poin penting lainnya yang mendukung keberhasilan sebuah usaha. “Tidak mungkin sebuah usaha bisa langgeng dan berkembang kalau tidak diseriusi,” tegas Tyas. Sebagai sebuah usaha sambilanpun perlu adanya keseriusan, apalagi sebagai sebuah usaha utama. Soal waktu dan sebagainya, khususnya dalam bisnis rumahan yang dijalankan ibu rumah tangga, bisa disiasati. Yang penting, serius!
Keseriusan ini otomatis akan membuat seseorang bersedia bekerja keras. Namun hendaknya kerja yang dilakukan tak sekedar keras, tapi juga pintar. “Work hard dan work smart, kerja keras tapi yang pandai kerjanya. Jadi jangan kerja keras yang kemudian tidak efektif dan tidak efisien,” kata Tyas. Maksudnya semua yang dikerjakan harus terstruktur dengan tujuan yang jelas pula agar kemudian seluruh kerja bisa dievaluasi.

Sebagai seorang pengusaha juga, Tyas melihat karakter yang sebenarnya harus dihindari, namun umumnya ada pada para wirausaha di sini yaitu cepat puas dan mudah putus asa. Sekali saja berhasil, orang jadi cepat puas dan malas mengembangkan diri. Sebaliknya, kegagalan langsung menjatuhkan mentalnya. Padahal sesungguhnya keberhasilan dan kegagalan adalah proses belajar. Tidak ada yang sekali jadi. Selalu saja ada ujian. “Itu pasti. Jangankan pengusaha kecil, pengusaha besar saja banyak yang bangkrut. Itu sudah sunnatullah. Jadi pada intinya harus memiliki mental yang kuat. Jangan malas dan cepat puas. Ini adalah kerja keras,” papar suami Ira Rachmasari ini.

Sikap all out, menurut Ustadz Iskan, terutama sangat diperlukan pada tahun-tahun pertama usaha rumahan. Setelah berjalan beberapa tahun dan teruji kemapanannya, seseorang akan mampu membuat sistem untuk menjalankan usaha tersebut. Pada saat inilah, ia bisa bertindak hanya sebagai pengawas, sedang usaha dijalankan pegawainya. Bila ia seorang ibu, maka pada titik ini ia dapat lebih banyak mencurahkan waktunya untuk keluarga. Atau kemudian ia bisa membuat inovasi lainnya. Yang pasti, penghasilan telah mampu didapatnya dari rumah. (Asmawati / laporan Rosita, Juminarsih dan Rahmi)
 

PostHeaderIcon Demi Anak Dua Kali Hampir Mati..



  • Saat itulah, tim dokter melakukan tindakan yang sungguh mengagetkan Krishna. Para dokter sibuk membalikkan tubuh Dinna, sehingga kepala ada di bawah dan kakinya di atas. Hal itu bertujuan mengalirkan darah yang masih ada ke bagian otak.

Dua kali hamil, Dinna Erwinn (38) selalu mengalami perdarahan hebat. Anak pertamanya, hanya sesaat menghirup udara kehidupan. Ketika melahirkan kedua kali, bayinya selamat tapi Dinna dua kali koma. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Kegembiraan menyelimuti Dinna dan Krishna Erwinn, ketika di tahun kelima perkawinan mereka, Dinna hamil yang pertama kali. Namun, kondisi kesehatannya ternyata tidak mulus. Ia mesti keluar masuk rumah sakit, karena perdarahan.

Menurut dokter, ia mengalami plasenta previa. Di bulan keenam ia bahkan harus total istirahat di rumahsakit. Oleh Dr. Maryunani yang merawatnya di RS Pondok Indah disarankan supaya bayi yang dilahirkan ketika usia kehamilannya 7 bulan.

Sebelum tiba waktu operasi dokter harus memberikan beberapa kali suntikan untuk menguatkan paru-paru bayi. Tapi, baru sekali diberi suntikan penguat, malamnya mengalami perdarahan lagi.

Akhirnya waktu itu juga dokter memutuskan tindakan operasi cesar. Si mungil pun lahir dengan berat hanya 1,3 kg. Karena paru-parunya belum kuat, meski sudah dibantu dengan beragai peralatan, bayi laki-laki itu hanya bertahan hidup selama 1,5 hari.

Betapa sedih hati Dinna dan Krishna menghadapi kenyataan itu. Buah hati yang telah lama ditunggu harus mereka lepaskan lagi dalam waktu yang terlalu singkat. Tapi layakkah jika meerka mempertanyakan keadilan Ilahi?

Maka Dinna dan suami pun segera bangkit kembali dari kedukaan dan segala perasaan yang berkecamuk dalam diri mereka. Dinna segera pulih kembali dan menjalani kehidupannya seperti biasa.

Hamil lagi

  • Seperti sebelumnya, pasangan ini tidak berusaha mencari pengobatan untuk bisa hamil lagi. Mereka ingin kehamilan itu berjalan secara alami, meski harus menunggu lama.

Dan Tuhan memang penuh kasih. Enam tahun kemudian tepatnya tahun 2000, Dinna hamil lagi. Ia pun merasa mendapat keajaiban, karena saat itu bersama suaminya ia sudah bisa menerima seandainya tidak dikaruniai momongan.

Maka seluruh keluarga menyambut kehadiran janin itu dengan penuh kegembiraan. Dokter Sumanadi yang menanganinya kali ini bersikap sangat hati-hati, mengingat riwayat perdarahan pada pasiennya.

Baru sekitar 3 minggu usia kehamilan, perdarahan itu benar-benar terjadi. "Itu membuat saya betul-betul stres dan down. Saya pikir ini pasti bakal nggak jadi lagi," kisah Managing Director Templar International Consultants ini. Untunglah perdarahan itu bisa diatasi dan Dinna harus istirahat total sekitar 2 minggu di rumahsakit. Kali ini dokter juga mendiagnosa terjadi plasenta previa.

Selanjutnya, Dinna boleh bekerja lagi, asal tidak menyetir sendiri, tidak naik tangga, dan tidak boleh kelelahan. Akan lebih baik jika ia bersikap santai selama menjalani kehamilan itu.

Tentu Dinna tidak keberatan menjalani semua anjuran itu. Namun, ketika semuanya telah berjalan baik hingga dua bulan kemudian, tiba-tiba perdarahan itu terjadi lagi. Dinna pun harus masuk rumasakit lagi.

Sejak saat itu hingga usai kehamilannya mencapai bulan keenam, bolak-balik ia dirawat di rumahsakit. Ia pun memutuskan untuk tidak aktif dulu di kantor dan hanya sesekali datang untuk menandatangani surat penting.

Dokter memang mengkhawatirkan, jika janinnya bertambah besar dan mulai bergerak akan menyebabkan perdarahan. Maka, ia dianjurkan untuk melahirkan di usia kandungan tujuh bulan. Dan supaya berat bayi lebih cepat bertambah besar, si ibu disarankan banyak makan.

"Saya lalu rajin minum jus alpukat, makan cokelat dan es krim," ujarnya. Kebetulan ia tidak mengalami masalah seperti mual, muntah, ngidam, ataupun pusing-pusing selama hamil. Apa saja ia doyan, sampi bobot tubuhnya naik sampai 20 kg.

Banjir Darah

  • Suatu kali Dinna harus pergi ke kantor di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta. Menjelang Bendungan Hilir jalanan macet dan begitu banyak orang memenuhi jalanan, karena ada demonstrasi.

Mendadak Dinna dicekam ketakutan, apalagi ada demonstran yang berusaha mengintip ke dalam mobilnya. Ia memang bisa selamat melewati kerumunan itu, tapi tak urung merasa stres juga.

Mungkin karena menekan rasa takut, malamnya ia merasa lelah sekali. Ketika sedang tiduran sekitar pukul 21.00, Dinna merasa ada perdarahan. Tapi, kali ini agak berbeda. Perdarahan itu terasa begitu banyaknya.

Tanpa menunggu lagi, Dinna lalu menghubungi dokter dan menceriterakan semua yang ia rasakan. Karena sudah berpengalaman, tas berisi perlengkapan menginap di rumahsakit, termasuk kartu darah dan hasil pemeriksaan laboratorium, sudah disiapkan. Oleh Dr. Sumanadi ia dianjurkan pergi ke RS International Bintaro yang lebih dekat dari rumahnya, karena untuk bisa mencapai RS Pondok Indah sudah tak mungkin lagi.

Dinna tidak berani bergerak sama sekali supaya perdarahannya tidak bertambah buruk. Dokter sempat mengkhawatirkan akan terjadi kontraksi seperti saat kehamilan pertama , karena bayi di perutnya sudah memasuki usia enam bulan dan sudah melakukan pergerakan.

Saat itu, tempat tidurnya sudah dibanjiri darah. Saking banyaknya darah yang keluar Dinna merasa mau pingsan saja. Dengan perlahan, Krishna suaminya berusaha mengangkatnya ke mobil.

Sepanjang jalan ke mobil itu darah Dinna membuat jejak tetesan di lantai yang putih. Melihat itu pembantunya pingsan. Bahkan belum sampai ke mobil sang suami merasa lututnya lemas, melihat darah yang mengalir begitu banyak. Hampir saja Krishna terjatuh saat menggendong isterinya. Untung saja, saat itu adik Dinna dan sumainya sudah tiba di rumah mereka, sehingga bisa membantu mengangkat Dinna ke mobil.

Berusaha Tetap Sadar

  • Dinna ingat pesan dokter agar ia berusaha tetap sadar, bila mengalami perdarahan. Waktu itu pun ia berusaha keras untuk tidak pingsan. Dipegangnya tangan adiknya dan meminta tolong perawat untuk terus menepuk-nepuk pipinya.

"Saya lakukan itu karena saya belum mau mati," ungkapnya. Malam itu juga ia dipersiapkan untuk menjalani operasi meskipun bayi di rahimnya masih sangat kecil. Karena hingga pukul 03.00 dini hari tak terjadi kondisi darurat, maka pembedahan itu pun batal dilakukan.

Pada pengalaman kedua ini Dinna sudah tahu bagaimana harus bersikap. Ia lebih tenang dan tidak stres, bahkan merasa aman karena sudah berada di bawah pengawasan dokter. Ia tetap tidak boleh bergerak, dan terus mendapatkan transfusi darah.

Supaya pemeriksaan oleh Dr Sumanadi bisa lebih intensif, ia kemudian dipindahkan ke RS Pondok Indah. Proses pemindahan dilakukan dengan sangat hati-hati dan diusahakan tidak terjadi pergerakan yang bisa membahayakan. Kondisi Dinna membaik dan tidak terjadi perdarahan, kecuali sedikit flek.

Selanjutnya, selain Dr. Sumanadi, Dinna juga ditangani oleh Dr Karno. Ia masih belum boleh turun dari tempat tidur dan dilarang banyak bergerak, sehingga otomatis selama 2 bulan Dinna menjalani kehidupannya di atas ranjang rumahsakit itu. "Saya tidak merasa tersiksa dengan kehidupan seperti itu, karena ada anugerah terbesar yang tengah kami nantikan," ujarnya.

Pada usia kandungan delapan bulan, berat bayi sudah mencapai 2,5 kg. Berat yang aman dan baik menurut dokter, sehingga bisa kapan saja dilahirkan. Dokter akhirnya memutuskan tidak perlu menunggu sampai bulan kesembilan untuk melahirkan. Lebih cepat akan lebih baik, karena Dinna juga dalam keadaan sehat.

Akhirnya diputuskanlah tanggal 21 Desember 2000 sebagai hari kelahiran jabang bayi itu. Sebelumnya, keluarga diminta mengusahakan darah sebanyak 4 labu (1000 cc). Kebetulan saat itu tepat bulan puasa, sehingga akan sulit mencari darah ke PMI dan donor pun tidak ada@ Endang Saptorini.

HB-nya Cuma 1,7

  • Sekitar pukul 07.00 tim dokter dan calon ibu itu siap di kamar operasi. Dinna masih sempat membawa kamera digital dan minta tolong seseorang mengambil gambar. Ia juga sempat bercanda dan minta dokter melakukan operasi dengan hati-hati.

Pembedahan berlangsung dengan baik. Dinna masih sempat mendengar bayinya menangis dan memastikan kalau anaknya laki-laki. Tapi tak lama kemudian, ketika belum sempat melihat bayinya, Dinna merasa hendak pingsan. Dan memang ia betul-betul kehilangan kesadaran.

Rupanya Dinna mengalami perdarahan hebat lagi, sehingga dokter melakukan pembiusan total dan segera menutup luka operasi. Kondisinya terus memburuk hingga ke titik yang paling rendah. Pada monitor garis detak jantungnya sudah datar.

Melihat keadaan itu, Dr Sumanadi segera keluar ruangan dan minta ijin Krishna untuk mengangkat rahim Dinna. Ia juga minta disiapkan darah lagi. Tentu suaminya mengijinkan, karena menurut dokter itulah jalan terbaik yang bisa ditempuh dalam kondisi kritis itu. Tindakan bedah pun dilakukan kembali.

Ternyata benar, setelah pengangkatan rahim, tampak lagi adanya detak jantung di layar monitor. Dinna sudah memperoleh kehidupannya kembali. Beberapa jam kemudian ia dipindah ke runag ICU. Waktu itu empat jam dari saat melahirkan. Tim dokter belum berani meninggalkannya, karena keadaan Dinna memang belum stabil benar.

Dugaan dokter tepat, tiba-tiba kondisi Dinna mengalami kemunduran lagi. Kali ini lebih kritis, karena Hb-nya cuma 1,7 padahal untuk perempuan normal, kadar HB mestinya 12. Dan berdasarkan pengalaman para dokter itu, pasien dengan Hb- 4 saja jarang yang bisa bertahan hidup.

Karena keadaan makin payah, dokter memanggil Krishna masuk supaya sempat melihat isterinya. Memang tidak diharapkan, namun keadaan terburuk sewaktu-waktu bisa saja terjadi. Krishna melihat bahwa di layar monitor itu tak ada lagi grafik kehidupan isterinya.Yang tampak hanya garis datar.

Saat itulah, tim dokter melakukan tindakan yang sungguh mengagetkan Krishna. Para dokter sibuk membalikkan tubuh Dinna, sehingga kepala ada di bawah dan kakinya di atas. Hal itu bertujuan untuk mengalirkan darah yang masih ada di tubuh pasien, ke bagian otak.

Setelah itu, Krishna memutuskan keluar ruangan. Ia kemudian menunggu sambil berdoa, 10 menit, 15, hingga 30 menit. Tak ada dokter yang keluar dan memberi pernyataan apa pun. Situasi ini membuat Krishna sedikit lega, karena berarti ada tanda-tanda baik yang tengah diupayakan dokter.

Donor Langsung

  • Apa yang sedang terjadi di ruangan pasien? Proses pengambilan darah para donor belum selesai, padahal pasien tak bisa menunggu untuk ditransfusi. Entah kekuatan apa yang menggerakkan Dr Karno, Dr Sumanadi, serta 4 perawat di ruang itu…

Mereka sepakat mendonorkan darah mereka secara langsung ke tubuh pasien. Kebetulan golongan darah mereka B, cocok dengan darah pasien. Tanpa melalui labu penampungan, tanpa melalui pemeriksaan silang, darah pun mengalir dari lengan para donor itu ke selang yang dipasang di leher pasien. Lengan Dr Karno sampai mengalami biru lebam, setelah proses penyaluran darah selesai.

Tindakan tim dokter yang dramatis itu membuahkan hasil. Mukjizat itu pun terjadi. Tanda denyut jantung di layar monitor kembali muncul, dan Dinna sekali lagi diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mendapatkan kehidupannya. Semangat untuk hidup, rupanya itulah yang dilihat oleh tim dokter, sehingga mereka tergerak melakukan upaya keras itu.

Sore harinya Dinna mulai sadar. Ia ingat baru melahirkan, tapi merasa tangannya diikat, dan di mulutnya terpasang alat pernapasan. Ia bisa mendengar semua yang terjadi di ruang itu, tapi belum bisa bicara dan matanya belum bisa dibuka. Sebentar ia tertidur, kemudian tersadar, begitu terus beberapa kali.

Ketika adik dan sahabat Dinna datang, mereka menangis. Mereka melihat sekujur tubuh Dinna seperti mayat yang membengkak. Ada sekitar 5 selang yang terpasang di tubuhnya yang menghubungkannya dengan kantung darah, infus, albumin, dan cairan lain untuk membantu memelihara kehidupannya.

"Mereka bilang supaya saya pegang tanggannya, jadi saya pegang tangannya. Dari situ mereka tahu kalau saya masih hidup," kenangnya. Bahkan setelah Dinna tersadar, para dokter pun menanyakan beberapa hal yang menurutnya konyol. Misalnya, "Dinna tahu nggak tadi habis apa? Tahu nggak ini siapa?"

Tentu saja, ia tahu betul bahwa yang ditunjuk itu suami tercinta. Melalui pertanyaan-pertanyaan itu dokter ingin mengecek kondisi daya ingat Dinna, yang ternyata tidak mengalami gangguan sedikit pun.

Sewaktu, ia merasa haus dan belum boleh minum, bibirnya diolesi dengan air zam-zam yang dibawa adik dan sahabatnya. Air itu pula yang ia reguk ketika pertama kali boleh minum.

Kondisi Dinna cepat sekali membaik. Pada hari keempat ia sudah boleh pindah ke kamar perawatan biasa dan bisa melihat anaknya. Ia ingin sekali menyusui buah hatinya saat itu. Sayang, masih ada infus yang mengalirkan obat-obatan ke tubuhnya. Ia pun cuma bisa memeluk dan memandangi wajah mungil yang membuatnya luar biasa bahagia. Rasa sakit di tubuhnya terhapus oleh kehadiran bayi yang amat ia harapkan.

Dinna merasa sangat bersyukur karena anaknya ternyata sempat mendapat kolostrum berkat donor ASI. Seorang ibu di kamar sebelah yang juga melahirkan bersimpati atas peristiwa yang menimpanya, dan kemudian menyumbangkan ASI-nya yang keluar berlimpah. "Jadi saya dapat donor darah, bayi saya dapat donor ASI. Benar-benar anugerah Tuhan ini ’kan," katanya dengan mata berbinar

http://www.kompas.com/kesehatan/news/0310/25/051959.htm

Last Updated ( Tuesday, 14 April 2009 05:34 )

 

PostHeaderIcon Tentang CeWe

 

I.     Profil LSM Lingkar Perempuan Circle of Women (CeWe)

  1. Nama

Lembaga Swadaya Masyarakat Lingkar Perempuan Circle of Women (CeWe)

Terdaftar pada akta notaris No. 43 Tgl 24 Juli 2007

 

  1. Latar Belakang

Pendirian LSM Lingkar Perempuan didasari keprihatinan terhadap masalah yang terjadi pada perempuan Indonesia saat ini.  Perempuan banyak yang tidak berdaya seiring dengan keterpurukan moral dan ekonomi bangsa ini.  Perempuan lebih banyak  dijadikan objek  daripada subjek di negara ini.

 

      Saat ini semakin banyak pemikiran dan gerakan yang berusaha untuk melakukan penyelamatan terhadap perempuan. Maka menjadi tanggung-jawab kita semua yang memiliki kepedulian besar terhadap kaum dan saudaranya untuk ikut berperan serta dalam penyelamatan perempuan.  Peran serta dan partisipasi aktif dalam usaha penyelamatan perempuan dan keluarga secara proporsional dan benar diharapkan dapat mengembalikan perempuan itu sendiri pada kemuliaannya.     

 

  1. Visi dan Misi Lingkar Perempuan

 

Visi

      Mendorong kemandirian perempuan melalui pendidikan dan ekonomi.menjadi perempuan yang berkualitas.

     

      Misi

1.    Membuka wawasan berpikir perempuan akan potensi diri dan keluarganya.

2.    Memberikan pelatihan-pelatihan yang mendukung kemandirian perempuan.

3.    Membantu membuat peluang-peluang kemandirian ekonomi utnuk perempuan dan keluarga.

4.    Melakukan advokasi, pendampingan dan konsultasi bagi perempuan yang mengalami permasalahan

5.    Ikut serta dalam kegiatan yang mendukung dan meningkatkan kualitas hidup perempuan

 

  1. Program Kerja

 

1. Mengadakan kajian-kajian seputar perempuan dan keluarga

2. Melakukan inventarisasi data seputar permasalahan perempuan dan keluarga

3. Melakukan seminar, diskusi dan workshop seputar permasalahan perempuan dan keluarga

4. Melakukan training-training citra diri, konsep diri

5. Melakukan pelatihan kewirausahaan

6. Melakukan konseling seputar permasalahan perempuan dan keluarga

7. Melakukan konsultasi dan pendampingan hukum seputar permasalahan perempuan dan keluarga

 

  1. Target sasaran

Remaja putri, perempuan dewasa, dan ibu rumah tangga.

 

  1. Susunan Pengurus

Ketua                         : Levy Olivia Nur, M.T.

Sekjen           : Nur Dewi Rahmalia, S.Si. Apt.

      Sekertaris      : Fika Zetia Dwisari, S.T.

Bendahara    : Trias Mayasari, S.P.

Divisi Kajian

     Ketua             : Iin Churin’in. S.Si, Apt

      Anggota         : Devi Febriyanti, S.Psi      

    

      Divisi Ekonomi

Ketua             : Dewi Fitriani, S.Pd

      Anggota         : Meri Wahid, S.Si

Divisi Advokasi

      Ketua             : Sinta, SH

 

II.   Struktur Kepengurusan

 

III.  Kompetensi

Levy Olivia Nur, M.T.

 

Nur Dewi Rahmalia, S.Si. Apt, Lulusan Apoteker & Farmasi ITB. Aktif di kegiatan training pengembangan diri.

Fika Zetia Dwisari, S.T.

Trias Mayasari, S.P, Lulusan Teknik Pertanian UNPAD. Memiliki Butique Muslimah, Konveksi dan Event Organizer Pernikahan Muslim. Beliau menangani langsung dari mulai pengadaan barang, dekorasi, hingga tata rias pengantin.

Iin Churin’in. S.Si, Apt, Lulusan Apoteker & Farmasi ITB. Mengelola Lembaga Pendidikan Anak, saat ini aktif di kegiatan sosial & sedang mendalami dunia Parenting.

Devi Febriyanti, S.Psi, Sedang mengambil Master Psikologi di UNPAD. Aktif menangani permasalahan kesehatan psikis pada anak dan remaja, saat ini bekerja sebagai konsultan psikologi pada sebuah Taman Kanak-Kanak di Bandung.   

Dewi Fitriani, S.Pd, Lulusan Tata Busana UPI. Berkecimpung dalam dunia konveksi sejak tahun ......

Meri Wahid, S.Si.

Sinta, SH.

 

IV.  Kegiatan

  • Seminar

ü  Kekerasan Ibu Kandung Terhadap Anaknya

Pembicara           :

Waktu & Tempat            :

  • Diskusi Panel

ü  Optimalisasi Multi Peran Perempuan

Pembicara           : 1. Dra. Hj. Wirianingsih

                                2. Dr. Ir. Hj. Tiena Gustina Amran

Waktu & Tempat            :Ahad

  • Kajian Rutin Internal

ü  Konsep Diri

ü  Optimalisasi Peran Ibu Di Dalam Dan Di Luar Rumah

ü  Kekerasan Dalam Rumah Tangga

  • Bilik Sharing
  • Penyalur Tenaga kerja

ü  Sulaman Kerudung

ü  Pembantu Rumah Tangga

ü  Salon Kecantikan Muslimah

ü  Konveksi Pakaian Muslim

  • Buletin
  • Desa Binaan  

 

V.  Keahlian Lembaga

·         Penyuluhan Hemat Energi

Memberikan penyuluhan bagaimana penghematan skala rumah tangga, termasuk di dalamnya penghematan penggunaan air, listrik, juga pemakaian alat-alat listrik Rumah Tangga.

·         Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Paket lengkap pengelolaan sampah rumah tangga, dari mulai membuka wawasan tentang sampah hingga praktek pemilahan sampah, pengolahan sampah & pemanfaatan hasil olahan sampah.

·        Home Management

Kursus tentang pengurusan rumah tangga dimulai dari cara menyapu, mencuci, menyetrika dll. 

·         Beauty Class

Perawatan kecantikan Wajah & Tubuh.

·         Manajemen Keuangan Keluarga

Mempersiapkan perencanaan, pengelolaan keuangan keluarga.

·         Tata Boga

Memberikan wawasan pengelolaan makanan mulai dari cara memasak, pemilihan menu, pengolahan makanan, penyajian. Contoh : Menyiapkan bekal anak.

·         Tata Busana

Memberikan wawasan cara pemilihan bahan, warna, motif, desain pakaian, pembuatan pakaian dan pemiliharannya.

·         Self Management Training

 

·         Event Organizer

 

·         Pendidikan Anak

 

·         Parenting Skill

 

·         Training Baby Sitter

 

·         Penghapusan Buta Aksara

 

·         Konsultasi Bisnis

 

·         Disaster Management

 

·         Community Development

 

VI. Kerjasama Antar Lembaga

·         LMS Salman

·         Sri Iskandar Consultant

·         GRAK  Management Consultant

·         AREA Plan & Environment